Monday, March 16, 2015

Seni memperhatikan

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments


Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Perhatian adalah pemberian jiwa: semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai. Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk memperhatikan. Tidak juga semua orang yang memiliki kesiapan mental memiliki kemampuan untuk terus memperhatikan.

Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai. Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mereka yang bisa keluar dari dalam dirinya adalah orang-orang yang sudah terbebas secara psikologis. Yaitu bebas dari kebutuhan untuk diperhatikan. Mereka independen secara emosional: kenyamanan psikologis tidak bersumber dari perhatian orang lain terhadap dirinya. Dan itulah musykilnya. Sebab sebagian orang besar lebih banyak terkungkung dalam dirinya sendiri. Mereka tidak bebas secara mental. Mereka lebih suka diperhatikan daripada memperhatikan. Itu sebabnya mereka selalu gagal mencintai.

Itulah kekuatan para pencinta sejati: bahwa mereka adalah pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang-orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh. Mereka berusaha secara terus-menerus untuk memahami latar belakang kehidupan sang kekasih, menyelidiki seluk beluk persoalan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya, mendefinisikan harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk sampai kepada harapan-harapannya.

Para pemerhati yang serius biasanya lebih suka mendengar daripada didengarkan. Mereka memiliki kesabaran yang cukup untuk mendengar dalam waktu yang lama. Kesabaran itulah yang membuat orang betah dan nyaman menumpahkan isi hatinya kepada mereka. Tapi kesabaran itu pula yang memberi mereka peluang untuk menyerap lebih banyak informasi tentang sang kekasih yang mereka cintai.

Tapi di sini juga disimpan sesuatu yang teramat agung dari rahasia cinta. Rahasia tentang pesona jiwa para pencinta. Kalau kamu terbiasa memperhatikan kekasih hatimu, secara perlahan-lahan dan tanpa ia sadari ia akan tergantung dengan perhatianmu. Secara psikologis ia akan sangat menikmati saat-saat diperhatikan itu. Bila suatu saat perhatian itu hilang, ia akan merasakan kehilangan yang sangat. Perhatian itu niscaya akan menyiksa jiwanya dengan rindu saat kamu tidak berada di sisinya. Mungkin ia tidak mengatakannya. Tapi ia pasti merasakannya.

~(serial cinta, anis matta)~

Pekerjaan orang kuat

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments


Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh: gagasan, emosi dan tindakan. Gagasannya adalah tentang bagaimana membuat orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi baik, dan berbahagia karenanya. Ia juga emosi yang penuh kehangatan dan gelora karena seluruh isinya adalah semata-mata keinginan baik. Tapi ia harus mengejawantah dalam tindakan nyata. Sebab gagasan dan emosi tidak merubah apa pun dalam kehidupan kita kecuali setelah ia menjelma jadi aksi.

Orang-orang seringkali hanya mengambil bagian tengah dari cinta: emosi. Dalam kehidupan mereka cinta adalah gumpalan perasaan yang romantis dan penuh keindahan. Mereka bahkan meungkin bisa memutuskan untuk mempertahankan suatu penderitaan seringkali karena mereka menikmati romantikanya: hidup digubuk derita, makan sepiring berdua. Mereka melankolik. Karenanya kehidupan mereka tidak berkembang.

Cinta dalam pengertian yang luas inilah yang menjamin bahwa suatu hubungan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Tidak ada hubungan yang dapat dipertahankan - dalam jangka panjang- jika kita tidak mempunyai suatu gagasan tentang bagaimana membuatnya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kebosanan dalam hubungan suami istri, misalnya, sering terjadi karena keduanya secara personal sama-sama tidak berkembang. Mereka sama-sama mengalami "penyusutan" kualitas kepribadian bersama perjalanan umur. Karenanya mereka sama-sama membosankan.

Jika cinta adalah sebuah totalitas. Di sana gagasan, emosi dan tindakan bergabung jadi satu kesatuan yang utuh dan bekerja secara bersama-sama bagi kebahagiaan dan kebaikan orang-orang yang kita cintai. Orang-orang dengan kepribadian yang lemah dan lembek tidak mencintai dengan kuat. Para pencinta sejati selalu datang dari orang-orang dengan kepribadian yang kuat dan tangguh.

Mencintai -dengan begitu- adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kepribadian. Maka para pencinta sejati selalu mengembangkan kepribadian mereka secara terus menerus. Sebab hanya dengan begitu mereka dapat mengembangkan kemampuan mereka mencintai. Cinta dan kepribadian adalah dua kata yang tumbuh bersama dan sejajar. Makin kuat kepribadian kita makin mampu kita mencintai dengan kuat. Mengendalikan perasaan saja dalam mencintai hanya akan melahirkan para pembual yang menguasai hanya satu keterampilan menebar janji.

Mereka yang ingin menjadi pencinta sejati harus terlebih dahulu membenahi dan mengembangkan kepribadiannya. Menggagas bagaimana membuat orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik, mempertahankan "keinginan baik" kepada orang yang kita cintai secara konstan, dan terus menerus melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk membahagiakan mereka, hanya mempunyai satu makna: itu pekerjaan orang kuat. Cinta adalah pekerjaan orang kuat. Kalau Rasulullah saw dapat menampung sembilan orang istri dalam jiwanya, itu karena ia dapat menampung sembilan kepribadian dalam kepribadiannya.

~ [Serial Cinta, Anis Matta] ~

Pesona sang nabi

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments


"Kalau aku adalah Muhammad," kata Iqbal, "aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha."

Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua: persoalan keteduhan di haribaan Allah, di puncak langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata di muka bumi. Dua kehidupan yang tidak dapat diperbandingkan. Sebab perjalanan ke Sidratul Muntaha itu memang terjadi setelah sepuluh tahun masa kenabian yang penuh tekanan, disusul kematian orang-orang tercinta yang menjadi penyangga, Khadijah dan Abu Thalib. Perjalanan itu perlu untuk menghibur Sang Nabi dengan panorama kebesaran Allah swt.

Tapi Sidratul Muntaha bukan penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati kemanusiaan dan menyalakannya kembali dengan api cinta. Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Tahif melemparinya dengan batu sampai kakinya berdarah: "Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Makkah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah-darah selama dua puluh tahun: "Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan," katanya ksatria.

Dengan kekuatan cintalah Sang Nabi menaklukan jiwa-jiwa manusia dan merentas jalan cepat kedalamnya. Maka wahyu mengalir bagai air membersihkan karat-karat hati yang kotor dan sakit, kemudian menyatukannya kembali dalam jalinan persaudaraan abadi, lalu menggerakkannya untuk menyalakan dunia dengan api cinta mereka. Seketika kota Madinah menyala dengan cinta. Lalu Jazirah Arab. Lalu Persi. Lalu Romawi. Lalu dunia. Dan Rumi pun bersenandung riang:

Jalan para nabi kita adalah jalan cinta
Kita adalah anak-anak cinta 
Dan cinta adalah ibu kita

Jalan cinta selalu melahirkan perubahan besar dengan cara yang sangat sederhana. Karena ia menjangkau pangkal hati secara langsung darimana segala perubahan dalam diri seseorang bermula. Bahkan ketika ia menggunakan kekerasan, cinta selalu mengubah efeknya, dan seketika ia berujung haru.

Begitulah sebuah pertanyaan sederhana mengantar Khalid menuju Islam. Sang Nabi bertanya kepada saudara laki-laki Khalid yang sudah lebih dulu masuk Islam. "Kemana Khalid? Sesungguhnya aku menyaksikan ada akal besar dalam dirinya." Khalid yang pernah membantai pasukan panah Sang Nabi dalam perang Uhud seketika tergetar. Padahal saat itu ia sedang merencanakan serangan kepada Sang Nabi menjelang perjanjian Hudaibiyah. Ia pun mencapai kepasrahannya

Cinta Terkembang jadi Kata

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments


Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta datang. Mata yang sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai dilaut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta, ada puisi cinta, ada lagu, semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu. Cinta bahkan menyadarkan kita pada wujud-wujud lain dari kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung... tiba-tiba semua wujud itu punya arti... tiba-tiba semua wujud itu masuk kedalam kesadaran kita... tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dalam hidup kita... tiba-tiba semua wujud itu menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita... tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta. Itu sebabnya para pecinta selalu berubah menjadi sastrawan atau penyair... atau setidaknya menyukai karya-karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu. Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair yang berbakat... tapi semata-mata ia tidak kuat menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita jadi halus dan lembut... maka semua yang lahir dari kehalusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut... hanya katalah yang dapat menguranginya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita. Puisi “Aku ingin” nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurangi dan menjamah makna-makna itu... apakah Sapardi sedang jatuh cinta atau sedang ingin memaknai kembali cintanya? Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Seperti Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Seperti Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

~serial cinta Anis Matta~

Sayap yang tak pernah patah

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments


Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka 'majnun' lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati

Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. "Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain," kata Rumi, "sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yan sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: "Apakah yang akan kuberikan?" Tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita!

~[Serial CintaAnis Matta] ~

Thursday, March 12, 2015

Tiramisu oh tiramisu

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments

Umm..saya udah gk bisa berkata-kata lagi nih...
Habis makan cake buatan sendiri, dan ternyata rasanya enaaaak. Heheee Denas narsiiiis.

Yang mau coba monggoo...
Tinggal order buat yang di Jogja.
Mau buat sendiri juga boleeeh....ini saya kasih contekannya

Tahapan:

1. Membuat base cake
2. Membuat syrup coffee
3. Membuat mousse
4. Mendekor

How to:
1. Base cake yang saya gunakan adalah sponge cake coklat.

Resepnya pakai resep NCC
8kutel+7telur utuh+200gr gula kastor+emulsifier  dikocok sampai kental berjejak
100gr terigu+25gr coklat powder+25gr maizena+15gr susu bubuk dimasukkan dan kocok dg speed rendah
150gr butter(boleh dipadu dg margarin boleh full salah satunya saja) dilelehkan dan dimasukkan sambil aduk balik.
Panggang di 180°C hingga matang. Belah tipis sesuai selera.

2. Syrup coffee
Saya mencairkan kopi instan (pakai nescaffe classic) 2sdm/boleh lebih dalam 300ml air+gula kastor 2sdm.
Tambah essence coffee noir (boleh diskip)

3. Mousse
Ini dia kunci tiramisu.
Saya pakai 250gr keju mascarpone+250ml whip cream yg dikocok dg 50gr gula kastor+1/2sdm vanilla +3sdm syrup coffee
Setelah smooth, simpan dalam kulkas.

4. Dekorasi
Ambil cakenya,siram dg syrup coffee, oles dg selai coklat(saya pakai nutella,boleh merk lain), buat lapisan mousse,cake lagi,begitu seterusnya hingga habis.

Jika sudah selesai, sebaiknya simpan cake dalam freezer agar mousse nya set. Baru kemudian didekor.
Lapisi permukaan cake dg butter cream(saya pakai 100gr haan whip cream dalam 150ml air es).
Lalu dekorlah sesuka hatiiii

Kali ini saya memilih tema putih, saya gunakan spuit no.103 untuk border creamnya, dan coklat putih yg dibentuk kotak-kotak untuk border cake. Selanjutnya saya dusting sedikit dengan coklat powder. Greeting's bar nya saya buat cukup besar agar puas menulisnya, terakhir biar terlihat segar saya tambahkan buah.

Selamat mencoba.
HAPPY BIRTHDAY, My Life. Masto Subroto.

Note:
Saya juga membuat edisi in jar nya, saya pikir ini enak dan praktis karena bisa dinikmati saat "to go" .
Next saya posting saat packaging nya sudah jual-able yaaa...yang ini masih coba cobiiii...

Monday, March 9, 2015

Belajar Dari Semut, Those Amazing Ants!

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments
Setting:
Tiba dirumah rasanya saya ingin sebentar saja leyeh-leyeh. Melepas lelah dan menolak sakit yang mulai kirim signal  (reasoning males ngedapur). Jadilah saya "me time" dipojok favorit (ngopi sambil nulis ditemani lagu Chrisye dan Ebit). Heaven.
====

Pagi tadi ada peristiwa menarik yang kami (saya dan Rara) amati. Rara minta sarapan diteras sambil main sama choky, kucing dirumah. Senang rasanya Rara dan choky mulai akur. Soalnya sejak Rara lahir kucing itu jealuos nya minta ampun. Semanis apapun Rara ngajak main, hmm choky nya buang muka bahkan sering langsung pergi begitu saja. Hihihii sabar ya nak...

Tapi bukan kucing yang ingin saya bahas kali ini. Karena nyatanya ada yang lebih menarik. Tadi didepan teras ada segundukan kecil tanah berlubang, dari dalamnya keluar berisan semut hitam berukuran cukup besar. Rara terlihat ingin tahu. Dan saya katakan bahwa itu adalah sarang semut. 

Tak lama kemudian Rara bilang pada saya, "Bun, mam nya coki dibawa semut". WAH...jadi tontonan menarik nih gumam saya. Rara melihat bagaimana kuatnya semut memanggul sebutir whiskas. Saya katakan bahwa semut itu mampu mengangkat beban berat yang ukurannya 50x dari berat tubuhnya. Jadi kalau kita seperti semut, harusnya bunda kuat angkat mobil dengan kedua tangan dan memanggul diatas kepala.Allah baik banget ya Ra sama semut.

Rara juga melihat para semut keluar dari lubang bawah tanah dan membantu teman-temannya membawa makanan ke sarang. Apalagi ketika telur orak-ariknya (bahasa jawa: scrumble egg) ada yang jatuh dan digondol semut, dia teriak. Seperti gk rela tapi penasaran. Lucu, telurnya lebih besar dari lubang sarangnya, jadi semut-semut itu terlihat memakai segala cara agar berhasil membawa telur masuk kedalam. Ada yang memotong sedikit dan membawanya masuk, ada yang masih kekeuh menggeret besar-besar. 

Sambil menghabiskan sarapan, anak saya yang senyumnya bikin hati melting ini terus saja bertanya, "bun, itu ayahnya ya? bundanya mana? bundanya didalem?sama anaknya ya?" dan ini dan itu lucu sekali. Bunda jadi ingat ketika dulu di SoU (School of Universe-tempat bunda mengajar kakak-kakak SD kecil) betapa semut memang menjadi bahasan yang tiada habisnya untuk anak-anak, saking banyaknya hal menarik dan bernilai dari si semut yang bisa kita ambil. Rasanya dulu jatah 2 bulan membahas tema 'Amazing Ants' masih pingin tambah lagi ketika anak-anak ditanya mau request tema apa dibulan berikutnya.

Banyak yang bisa kita kupas lho, mulai dari fakta menarik, siklus hidup, sifat sosial, pekerja keras, bermacam spesies, ekperimen science yang seru (dengan leaf cutter ant misalnya), cari tau makanan kegemaran semut, performing art kostum semut- the ants go marching song, cerita nabi sulaiman, nonton kartun "ants", sampai treasure hunts ala semut, waaaah sekelas pada suka. 

Bagitupun Rara, ngobrolnya jadi banyak sampai-sampai sarapannya nambah. Sabar tunggu agak besar ya nak, baru kita main-main lebih banyak dengan semut.

===

Sekarang kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Dari semut kita bisa belajar arti keikhlasan dan kesungguhan. Yang terlihat, rumah semut adalah rumah mungil berupa gundukan tanah dipermukaan. Tak mengundang banyak mata. Bahkan sering terlupa, terinjak, rata kembali. 

Tapi sadarkah kita, dibawah sana telah terbangun sebuah kompleks yang detail dengan perencanaan dan desain yang amat mengagumkan. Kokoh. Jauh dari pikiran manusia. Sadarkah kita bahwa sesungguhnya semut sedang bekerja didalam sepi, didalam sunyi yang jauh dari hingar bingar. Asing. Ghuroba. Yang ia tahu hanyalah menggunakan jatah hidupnya sebagaimana fitrahnya ia diberi.  

Untuk kita, kadang menjadi asing dan terasing itu baik. 
Asing diantara orang-orang yang berbuat maksiat namun kita dapat berdiri kokoh memegang iman, itu baik.
Asing diantara orang-orang yang dzalim dan kita mampu untuk menggenggam janji Allah, itu baik. 
Asing diantara orang-orang yang enggan beribadah dan kita tetap mencintainya, itu baik. 
Dan asing diantara orang-orang yang suka mengejek ajakan kebaikan namun kita bersabar terhadapnya, itu juga baik. 

Karena  Rasulullah pernah bersabda, "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing" (HR Muslim)

Semoga hati kita senantiasa terpaut pada kebaikan. 






Friday, March 6, 2015

Belajar Dari Sebongkah Tanah

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments

Pengalaman Rara bermain tanah salah satunya adalah kemarin saat kami mengajaknya ke Taman Pintar (baca: salah satu wisata edukasi yang berada dikota Jogja. Berdekatan dengan titik Nol kilometer, disamping “shopping” Beringharjo-tempat belanja buku murah dan berkualitas ala Kwitang -juga dekat dengan pasar yang tentu saja ada pecel dawet dan kawan kawannya. Surga buat bunda).

Membayar Rp 5.000,00 Rara sudah mendapatkan satu bongkah tanah liat yang siap dibentuk menjadi apa yang dikehendakinya. Rara mulai mencubit, menggulung, menggeprek, wuallaaa...jadilah! Maksud saya jadilah ia bosan karena sudah putar-putar disana sejak 3 jam yang lalu. Hehe.

Akhirnya saya mengajak  Rara untuk membuat projek bersama (work with parent). WWP kami kali ini adalah membuat gerabah berbentuk sapi, alasannya karena disamping gubug kami bermain terdapat patung sapi. Hehe (ide yang sangat kepepet-seadanya). Bunda mulai membentuk muka sapi, badan dan totol-totol ciri khas sapi FH (Fries Holland). Rara menempelkan kaki dan buntutnya.  Selesai membuat si sapi gepeng ternyata tanah liatnya masih bersisa, bunda melanjutkan doodling yang bunda suka, pattern kriwel-kriwel atau ungkel-ungkel. Masih bersisa jugaaaa....dan itulah jatah ayah, dibuatkan Rara sebuah perahu ala ayah. Tanah pun habis. Mission accomplished. Horee...!

Asyiknya bermain tanah. Sampai lupa sudah siang dan perut mulai lapar. Pulang lah kami kerumah eyang yang jaraknya tak jauh dari pusat kota Jogja.

Tapi perjalanan si tanah tentu saja belum berakhir sampai disana. Tanah yang merupakan batuan yang melapuk, harus rela dijemur atau bahkan dibakar agar bisa disebut sebagai gerabah, karya seni.
Bahkan agar lebih bagus tanah harus siap dilapis cat atau bahan coating lain yang (menurut sang pekerja seni) akan membuat ia nampak sempurna.



Sama halnya dengan manusia seperti kita. Hamba Allah. Menempa diri adalah sebuah keniscayaan agar ujungnya mendapat kebahagiaan. Keras terhadap diri, tidak manja, bersabar dalam setiap prosesnya, adalah sikap yang wajib ada dalam menuntut ilmu (kehidupan). Easy come easy go. Jangan yaa! Semoga kelak Rara mengerti. Tak ada pelaut ulung yang lahir dari laut yang tenang.





Thursday, March 5, 2015

Bolu Batik Motif Jogja

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments

































Postingan saya kali ini untuk melanjutkan tulisan Batik Roll Cake yang sempat terputus disini.
Beberapa motif batik yang saya buat dominan bernuansa bati Jogja. Itu karena saya sedang menumpang hidup di kotanan indah Yogyakarta. 
Diantaranya ada batik sidomukti, kawung,  dan lereng. 

Kalau dihalaman yang kemarin saya bercerita mengenai step by stepnya membuat batik roll cake, sekarang saya ingin sharing tentang resep base cake nya. Langsung saja ya,
Resep yang saya gunakan ada dua, vanila dan coklat.

Base cake vanila:
Bahan A
3 butir telur utuh
3 butir kuning telur
65 gr gula pasir
1sdt emulsifier (SP Ryoto berlabel halal)
1sdm air
1/2 sdt vanila

Bahan B
50 gr tepung terigu protein sedang
10 gr susu bubuk
1/8 sdt BP

Bahan C
65 gr mentega cair (bisa di padu antara mentega dan margarin atau pilih salah satunya saja, atau ditambah sedikit butter oil)

How to:
Kocok bahan A dengan mixer speed tinggi hingga kental berjejak
Masukkan bahan B sambil diayak dengan mixer speed rendah
Masukkan bahan C sambil diaduk dengan spatula
Oven disuhu 180 dercel untuk lapisan 2-3 cm atau 160 dercel untuk lapisan 4cm selama kurang lebih 25 menit.

Note: untuk base yang coklat, bahan B diubah komposisinya menjadi
25 gr terigu protein sedang
20 gr coklat bubuk (merk tulip warnanya pekat)
5 gr maizena
10 gr susu bubuk

Selamat mencoba yaa!

Wednesday, March 4, 2015

Belajar Dari Selembar Daun

Posted by Denas (Dewi Nastiti) 0 comments
Daun. Rara dan bunda cukup akrab dengan ciptaan Allah yang satu ini. Bukan karena kami ulat yang gemar nyemil  dedaunan lho, tapi karena disekitar rumah kami masih bernuansa ijo royo-royo (bisa dibaca: ndeso).

 














Saking banyaknya daun yang berinteraksi dengan kami, bunda jadi lupa mengajarkan Rara untuk menyayangi sang daun. Lebih tepatnya membedakan mana daun yang boleh dipetik dan mana yang tidak. Yang Rara lihat daun dipetik untuk makanan ternak, daun dipetik untuk dimasak, atau daun dipetik untuk bungkus-bungkus. Rara terlalu bebas memperlakukan mereka. Hobinya petik daun dan bunga rambat untuk hadiah Sofia (nama anak kambing dirumah).

Sampai suatu ketika Rara pergi bersama bunda ke rumah Kak Zahro (anak dari amah Miftah, teman bunda di Salimah). Disana kebanyakan tanaman tumbuh didalam pot, yang artinya tanaman tersebut bisa dikatakan tanaman hias. Rara dengan santainya memetik satu persatu daun yang tumbuh dengan subur dan penuh kasih sayang itu. Gimana enggak, daunnya kinclong-kinclong mungkin karena yang punya rajin ngelapin satu-satu setiap hari (who knows?) Dan tiba-tiba kak Zahro pun protes bertanya kesemua orang sambil membawa beberapa lembar daun kuping gajahnya, “siapa ini yang motesin daun-daunku?” (oh nooo....that’s my sweet heart do). Jadilah kami minta maaf dan dapat satu pelajaran menarik dihari itu.

Mari kita merenung sejenak.

Dari daun manusia bisa mendapat banyak hal. Daun begitu menginspirasi. There’s so much lesson to learn from the leaf.

Daun, saat ia masih berada diatas pohon menempel pada tangkainya, kerjanya adalah memberi. Diserapnya energi matahari untuk ia olah menjadi sumber tenaga dan ia alirkan keseluruh tubuh sang pohon.  Saat tiba waktunya ia terlepas dari tangkai, daun tak pernah protes terhadap Tuhan. Ia jalani setiap takdirnya dengan tetap tenang, ia berayun dibawa angin. Bertemu dengan daun lain, bertemu dengan rerumputan, dengan kupu-kupu, dengan ternak , begitu menikmatinya. Bahkan begitu menikmatinya sampai seakan ia telah diberitahu oleh Tuhan bahwa dalam kejatuhannya ia tetap dapat memberi. Benar saja. Ketika daun mencapai tanah, daun berubah menjadi humus. Sumber kehidupan baru. Daun tetap memberi. Tetap bermanfaat.




“… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)....” (al-An’aam: 59) 


HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh: Sapardi Djoko Damono
hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput 
nanti dulu, biarkan aku terbaring disini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi
sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi

Denas (Dewi Nastiti)


Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Perhatian adalah pemberian jiwa: semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai. Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk memperhatikan. Tidak juga semua orang yang memiliki kesiapan mental memiliki kemampuan untuk terus memperhatikan.

Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai. Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mereka yang bisa keluar dari dalam dirinya adalah orang-orang yang sudah terbebas secara psikologis. Yaitu bebas dari kebutuhan untuk diperhatikan. Mereka independen secara emosional: kenyamanan psikologis tidak bersumber dari perhatian orang lain terhadap dirinya. Dan itulah musykilnya. Sebab sebagian orang besar lebih banyak terkungkung dalam dirinya sendiri. Mereka tidak bebas secara mental. Mereka lebih suka diperhatikan daripada memperhatikan. Itu sebabnya mereka selalu gagal mencintai.

Itulah kekuatan para pencinta sejati: bahwa mereka adalah pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang-orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh. Mereka berusaha secara terus-menerus untuk memahami latar belakang kehidupan sang kekasih, menyelidiki seluk beluk persoalan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya, mendefinisikan harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk sampai kepada harapan-harapannya.

Para pemerhati yang serius biasanya lebih suka mendengar daripada didengarkan. Mereka memiliki kesabaran yang cukup untuk mendengar dalam waktu yang lama. Kesabaran itulah yang membuat orang betah dan nyaman menumpahkan isi hatinya kepada mereka. Tapi kesabaran itu pula yang memberi mereka peluang untuk menyerap lebih banyak informasi tentang sang kekasih yang mereka cintai.

Tapi di sini juga disimpan sesuatu yang teramat agung dari rahasia cinta. Rahasia tentang pesona jiwa para pencinta. Kalau kamu terbiasa memperhatikan kekasih hatimu, secara perlahan-lahan dan tanpa ia sadari ia akan tergantung dengan perhatianmu. Secara psikologis ia akan sangat menikmati saat-saat diperhatikan itu. Bila suatu saat perhatian itu hilang, ia akan merasakan kehilangan yang sangat. Perhatian itu niscaya akan menyiksa jiwanya dengan rindu saat kamu tidak berada di sisinya. Mungkin ia tidak mengatakannya. Tapi ia pasti merasakannya.

~(serial cinta, anis matta)~

Denas (Dewi Nastiti)


Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh: gagasan, emosi dan tindakan. Gagasannya adalah tentang bagaimana membuat orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi baik, dan berbahagia karenanya. Ia juga emosi yang penuh kehangatan dan gelora karena seluruh isinya adalah semata-mata keinginan baik. Tapi ia harus mengejawantah dalam tindakan nyata. Sebab gagasan dan emosi tidak merubah apa pun dalam kehidupan kita kecuali setelah ia menjelma jadi aksi.

Orang-orang seringkali hanya mengambil bagian tengah dari cinta: emosi. Dalam kehidupan mereka cinta adalah gumpalan perasaan yang romantis dan penuh keindahan. Mereka bahkan meungkin bisa memutuskan untuk mempertahankan suatu penderitaan seringkali karena mereka menikmati romantikanya: hidup digubuk derita, makan sepiring berdua. Mereka melankolik. Karenanya kehidupan mereka tidak berkembang.

Cinta dalam pengertian yang luas inilah yang menjamin bahwa suatu hubungan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Tidak ada hubungan yang dapat dipertahankan - dalam jangka panjang- jika kita tidak mempunyai suatu gagasan tentang bagaimana membuatnya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kebosanan dalam hubungan suami istri, misalnya, sering terjadi karena keduanya secara personal sama-sama tidak berkembang. Mereka sama-sama mengalami "penyusutan" kualitas kepribadian bersama perjalanan umur. Karenanya mereka sama-sama membosankan.

Jika cinta adalah sebuah totalitas. Di sana gagasan, emosi dan tindakan bergabung jadi satu kesatuan yang utuh dan bekerja secara bersama-sama bagi kebahagiaan dan kebaikan orang-orang yang kita cintai. Orang-orang dengan kepribadian yang lemah dan lembek tidak mencintai dengan kuat. Para pencinta sejati selalu datang dari orang-orang dengan kepribadian yang kuat dan tangguh.

Mencintai -dengan begitu- adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kepribadian. Maka para pencinta sejati selalu mengembangkan kepribadian mereka secara terus menerus. Sebab hanya dengan begitu mereka dapat mengembangkan kemampuan mereka mencintai. Cinta dan kepribadian adalah dua kata yang tumbuh bersama dan sejajar. Makin kuat kepribadian kita makin mampu kita mencintai dengan kuat. Mengendalikan perasaan saja dalam mencintai hanya akan melahirkan para pembual yang menguasai hanya satu keterampilan menebar janji.

Mereka yang ingin menjadi pencinta sejati harus terlebih dahulu membenahi dan mengembangkan kepribadiannya. Menggagas bagaimana membuat orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik, mempertahankan "keinginan baik" kepada orang yang kita cintai secara konstan, dan terus menerus melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk membahagiakan mereka, hanya mempunyai satu makna: itu pekerjaan orang kuat. Cinta adalah pekerjaan orang kuat. Kalau Rasulullah saw dapat menampung sembilan orang istri dalam jiwanya, itu karena ia dapat menampung sembilan kepribadian dalam kepribadiannya.

~ [Serial Cinta, Anis Matta] ~

Denas (Dewi Nastiti)


"Kalau aku adalah Muhammad," kata Iqbal, "aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha."

Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua: persoalan keteduhan di haribaan Allah, di puncak langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata di muka bumi. Dua kehidupan yang tidak dapat diperbandingkan. Sebab perjalanan ke Sidratul Muntaha itu memang terjadi setelah sepuluh tahun masa kenabian yang penuh tekanan, disusul kematian orang-orang tercinta yang menjadi penyangga, Khadijah dan Abu Thalib. Perjalanan itu perlu untuk menghibur Sang Nabi dengan panorama kebesaran Allah swt.

Tapi Sidratul Muntaha bukan penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati kemanusiaan dan menyalakannya kembali dengan api cinta. Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Tahif melemparinya dengan batu sampai kakinya berdarah: "Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Makkah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah-darah selama dua puluh tahun: "Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan," katanya ksatria.

Dengan kekuatan cintalah Sang Nabi menaklukan jiwa-jiwa manusia dan merentas jalan cepat kedalamnya. Maka wahyu mengalir bagai air membersihkan karat-karat hati yang kotor dan sakit, kemudian menyatukannya kembali dalam jalinan persaudaraan abadi, lalu menggerakkannya untuk menyalakan dunia dengan api cinta mereka. Seketika kota Madinah menyala dengan cinta. Lalu Jazirah Arab. Lalu Persi. Lalu Romawi. Lalu dunia. Dan Rumi pun bersenandung riang:

Jalan para nabi kita adalah jalan cinta
Kita adalah anak-anak cinta 
Dan cinta adalah ibu kita

Jalan cinta selalu melahirkan perubahan besar dengan cara yang sangat sederhana. Karena ia menjangkau pangkal hati secara langsung darimana segala perubahan dalam diri seseorang bermula. Bahkan ketika ia menggunakan kekerasan, cinta selalu mengubah efeknya, dan seketika ia berujung haru.

Begitulah sebuah pertanyaan sederhana mengantar Khalid menuju Islam. Sang Nabi bertanya kepada saudara laki-laki Khalid yang sudah lebih dulu masuk Islam. "Kemana Khalid? Sesungguhnya aku menyaksikan ada akal besar dalam dirinya." Khalid yang pernah membantai pasukan panah Sang Nabi dalam perang Uhud seketika tergetar. Padahal saat itu ia sedang merencanakan serangan kepada Sang Nabi menjelang perjanjian Hudaibiyah. Ia pun mencapai kepasrahannya

Denas (Dewi Nastiti)


Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta datang. Mata yang sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai dilaut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta, ada puisi cinta, ada lagu, semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu. Cinta bahkan menyadarkan kita pada wujud-wujud lain dari kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung... tiba-tiba semua wujud itu punya arti... tiba-tiba semua wujud itu masuk kedalam kesadaran kita... tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dalam hidup kita... tiba-tiba semua wujud itu menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita... tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta. Itu sebabnya para pecinta selalu berubah menjadi sastrawan atau penyair... atau setidaknya menyukai karya-karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu. Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair yang berbakat... tapi semata-mata ia tidak kuat menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita jadi halus dan lembut... maka semua yang lahir dari kehalusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut... hanya katalah yang dapat menguranginya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita. Puisi “Aku ingin” nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurangi dan menjamah makna-makna itu... apakah Sapardi sedang jatuh cinta atau sedang ingin memaknai kembali cintanya? Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Seperti Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Seperti Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

~serial cinta Anis Matta~

Denas (Dewi Nastiti)


Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka 'majnun' lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati

Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. "Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain," kata Rumi, "sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yan sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: "Apakah yang akan kuberikan?" Tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita!

~[Serial CintaAnis Matta] ~

Denas (Dewi Nastiti)

Umm..saya udah gk bisa berkata-kata lagi nih...
Habis makan cake buatan sendiri, dan ternyata rasanya enaaaak. Heheee Denas narsiiiis.

Yang mau coba monggoo...
Tinggal order buat yang di Jogja.
Mau buat sendiri juga boleeeh....ini saya kasih contekannya

Tahapan:

1. Membuat base cake
2. Membuat syrup coffee
3. Membuat mousse
4. Mendekor

How to:
1. Base cake yang saya gunakan adalah sponge cake coklat.

Resepnya pakai resep NCC
8kutel+7telur utuh+200gr gula kastor+emulsifier  dikocok sampai kental berjejak
100gr terigu+25gr coklat powder+25gr maizena+15gr susu bubuk dimasukkan dan kocok dg speed rendah
150gr butter(boleh dipadu dg margarin boleh full salah satunya saja) dilelehkan dan dimasukkan sambil aduk balik.
Panggang di 180°C hingga matang. Belah tipis sesuai selera.

2. Syrup coffee
Saya mencairkan kopi instan (pakai nescaffe classic) 2sdm/boleh lebih dalam 300ml air+gula kastor 2sdm.
Tambah essence coffee noir (boleh diskip)

3. Mousse
Ini dia kunci tiramisu.
Saya pakai 250gr keju mascarpone+250ml whip cream yg dikocok dg 50gr gula kastor+1/2sdm vanilla +3sdm syrup coffee
Setelah smooth, simpan dalam kulkas.

4. Dekorasi
Ambil cakenya,siram dg syrup coffee, oles dg selai coklat(saya pakai nutella,boleh merk lain), buat lapisan mousse,cake lagi,begitu seterusnya hingga habis.

Jika sudah selesai, sebaiknya simpan cake dalam freezer agar mousse nya set. Baru kemudian didekor.
Lapisi permukaan cake dg butter cream(saya pakai 100gr haan whip cream dalam 150ml air es).
Lalu dekorlah sesuka hatiiii

Kali ini saya memilih tema putih, saya gunakan spuit no.103 untuk border creamnya, dan coklat putih yg dibentuk kotak-kotak untuk border cake. Selanjutnya saya dusting sedikit dengan coklat powder. Greeting's bar nya saya buat cukup besar agar puas menulisnya, terakhir biar terlihat segar saya tambahkan buah.

Selamat mencoba.
HAPPY BIRTHDAY, My Life. Masto Subroto.

Note:
Saya juga membuat edisi in jar nya, saya pikir ini enak dan praktis karena bisa dinikmati saat "to go" .
Next saya posting saat packaging nya sudah jual-able yaaa...yang ini masih coba cobiiii...

Denas (Dewi Nastiti)
Setting:
Tiba dirumah rasanya saya ingin sebentar saja leyeh-leyeh. Melepas lelah dan menolak sakit yang mulai kirim signal  (reasoning males ngedapur). Jadilah saya "me time" dipojok favorit (ngopi sambil nulis ditemani lagu Chrisye dan Ebit). Heaven.
====

Pagi tadi ada peristiwa menarik yang kami (saya dan Rara) amati. Rara minta sarapan diteras sambil main sama choky, kucing dirumah. Senang rasanya Rara dan choky mulai akur. Soalnya sejak Rara lahir kucing itu jealuos nya minta ampun. Semanis apapun Rara ngajak main, hmm choky nya buang muka bahkan sering langsung pergi begitu saja. Hihihii sabar ya nak...

Tapi bukan kucing yang ingin saya bahas kali ini. Karena nyatanya ada yang lebih menarik. Tadi didepan teras ada segundukan kecil tanah berlubang, dari dalamnya keluar berisan semut hitam berukuran cukup besar. Rara terlihat ingin tahu. Dan saya katakan bahwa itu adalah sarang semut. 

Tak lama kemudian Rara bilang pada saya, "Bun, mam nya coki dibawa semut". WAH...jadi tontonan menarik nih gumam saya. Rara melihat bagaimana kuatnya semut memanggul sebutir whiskas. Saya katakan bahwa semut itu mampu mengangkat beban berat yang ukurannya 50x dari berat tubuhnya. Jadi kalau kita seperti semut, harusnya bunda kuat angkat mobil dengan kedua tangan dan memanggul diatas kepala.Allah baik banget ya Ra sama semut.

Rara juga melihat para semut keluar dari lubang bawah tanah dan membantu teman-temannya membawa makanan ke sarang. Apalagi ketika telur orak-ariknya (bahasa jawa: scrumble egg) ada yang jatuh dan digondol semut, dia teriak. Seperti gk rela tapi penasaran. Lucu, telurnya lebih besar dari lubang sarangnya, jadi semut-semut itu terlihat memakai segala cara agar berhasil membawa telur masuk kedalam. Ada yang memotong sedikit dan membawanya masuk, ada yang masih kekeuh menggeret besar-besar. 

Sambil menghabiskan sarapan, anak saya yang senyumnya bikin hati melting ini terus saja bertanya, "bun, itu ayahnya ya? bundanya mana? bundanya didalem?sama anaknya ya?" dan ini dan itu lucu sekali. Bunda jadi ingat ketika dulu di SoU (School of Universe-tempat bunda mengajar kakak-kakak SD kecil) betapa semut memang menjadi bahasan yang tiada habisnya untuk anak-anak, saking banyaknya hal menarik dan bernilai dari si semut yang bisa kita ambil. Rasanya dulu jatah 2 bulan membahas tema 'Amazing Ants' masih pingin tambah lagi ketika anak-anak ditanya mau request tema apa dibulan berikutnya.

Banyak yang bisa kita kupas lho, mulai dari fakta menarik, siklus hidup, sifat sosial, pekerja keras, bermacam spesies, ekperimen science yang seru (dengan leaf cutter ant misalnya), cari tau makanan kegemaran semut, performing art kostum semut- the ants go marching song, cerita nabi sulaiman, nonton kartun "ants", sampai treasure hunts ala semut, waaaah sekelas pada suka. 

Bagitupun Rara, ngobrolnya jadi banyak sampai-sampai sarapannya nambah. Sabar tunggu agak besar ya nak, baru kita main-main lebih banyak dengan semut.

===

Sekarang kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Dari semut kita bisa belajar arti keikhlasan dan kesungguhan. Yang terlihat, rumah semut adalah rumah mungil berupa gundukan tanah dipermukaan. Tak mengundang banyak mata. Bahkan sering terlupa, terinjak, rata kembali. 

Tapi sadarkah kita, dibawah sana telah terbangun sebuah kompleks yang detail dengan perencanaan dan desain yang amat mengagumkan. Kokoh. Jauh dari pikiran manusia. Sadarkah kita bahwa sesungguhnya semut sedang bekerja didalam sepi, didalam sunyi yang jauh dari hingar bingar. Asing. Ghuroba. Yang ia tahu hanyalah menggunakan jatah hidupnya sebagaimana fitrahnya ia diberi.  

Untuk kita, kadang menjadi asing dan terasing itu baik. 
Asing diantara orang-orang yang berbuat maksiat namun kita dapat berdiri kokoh memegang iman, itu baik.
Asing diantara orang-orang yang dzalim dan kita mampu untuk menggenggam janji Allah, itu baik. 
Asing diantara orang-orang yang enggan beribadah dan kita tetap mencintainya, itu baik. 
Dan asing diantara orang-orang yang suka mengejek ajakan kebaikan namun kita bersabar terhadapnya, itu juga baik. 

Karena  Rasulullah pernah bersabda, "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing" (HR Muslim)

Semoga hati kita senantiasa terpaut pada kebaikan. 






Denas (Dewi Nastiti)

Pengalaman Rara bermain tanah salah satunya adalah kemarin saat kami mengajaknya ke Taman Pintar (baca: salah satu wisata edukasi yang berada dikota Jogja. Berdekatan dengan titik Nol kilometer, disamping “shopping” Beringharjo-tempat belanja buku murah dan berkualitas ala Kwitang -juga dekat dengan pasar yang tentu saja ada pecel dawet dan kawan kawannya. Surga buat bunda).

Membayar Rp 5.000,00 Rara sudah mendapatkan satu bongkah tanah liat yang siap dibentuk menjadi apa yang dikehendakinya. Rara mulai mencubit, menggulung, menggeprek, wuallaaa...jadilah! Maksud saya jadilah ia bosan karena sudah putar-putar disana sejak 3 jam yang lalu. Hehe.

Akhirnya saya mengajak  Rara untuk membuat projek bersama (work with parent). WWP kami kali ini adalah membuat gerabah berbentuk sapi, alasannya karena disamping gubug kami bermain terdapat patung sapi. Hehe (ide yang sangat kepepet-seadanya). Bunda mulai membentuk muka sapi, badan dan totol-totol ciri khas sapi FH (Fries Holland). Rara menempelkan kaki dan buntutnya.  Selesai membuat si sapi gepeng ternyata tanah liatnya masih bersisa, bunda melanjutkan doodling yang bunda suka, pattern kriwel-kriwel atau ungkel-ungkel. Masih bersisa jugaaaa....dan itulah jatah ayah, dibuatkan Rara sebuah perahu ala ayah. Tanah pun habis. Mission accomplished. Horee...!

Asyiknya bermain tanah. Sampai lupa sudah siang dan perut mulai lapar. Pulang lah kami kerumah eyang yang jaraknya tak jauh dari pusat kota Jogja.

Tapi perjalanan si tanah tentu saja belum berakhir sampai disana. Tanah yang merupakan batuan yang melapuk, harus rela dijemur atau bahkan dibakar agar bisa disebut sebagai gerabah, karya seni.
Bahkan agar lebih bagus tanah harus siap dilapis cat atau bahan coating lain yang (menurut sang pekerja seni) akan membuat ia nampak sempurna.



Sama halnya dengan manusia seperti kita. Hamba Allah. Menempa diri adalah sebuah keniscayaan agar ujungnya mendapat kebahagiaan. Keras terhadap diri, tidak manja, bersabar dalam setiap prosesnya, adalah sikap yang wajib ada dalam menuntut ilmu (kehidupan). Easy come easy go. Jangan yaa! Semoga kelak Rara mengerti. Tak ada pelaut ulung yang lahir dari laut yang tenang.





Denas (Dewi Nastiti)

































Postingan saya kali ini untuk melanjutkan tulisan Batik Roll Cake yang sempat terputus disini.
Beberapa motif batik yang saya buat dominan bernuansa bati Jogja. Itu karena saya sedang menumpang hidup di kotanan indah Yogyakarta. 
Diantaranya ada batik sidomukti, kawung,  dan lereng. 

Kalau dihalaman yang kemarin saya bercerita mengenai step by stepnya membuat batik roll cake, sekarang saya ingin sharing tentang resep base cake nya. Langsung saja ya,
Resep yang saya gunakan ada dua, vanila dan coklat.

Base cake vanila:
Bahan A
3 butir telur utuh
3 butir kuning telur
65 gr gula pasir
1sdt emulsifier (SP Ryoto berlabel halal)
1sdm air
1/2 sdt vanila

Bahan B
50 gr tepung terigu protein sedang
10 gr susu bubuk
1/8 sdt BP

Bahan C
65 gr mentega cair (bisa di padu antara mentega dan margarin atau pilih salah satunya saja, atau ditambah sedikit butter oil)

How to:
Kocok bahan A dengan mixer speed tinggi hingga kental berjejak
Masukkan bahan B sambil diayak dengan mixer speed rendah
Masukkan bahan C sambil diaduk dengan spatula
Oven disuhu 180 dercel untuk lapisan 2-3 cm atau 160 dercel untuk lapisan 4cm selama kurang lebih 25 menit.

Note: untuk base yang coklat, bahan B diubah komposisinya menjadi
25 gr terigu protein sedang
20 gr coklat bubuk (merk tulip warnanya pekat)
5 gr maizena
10 gr susu bubuk

Selamat mencoba yaa!

Denas (Dewi Nastiti)
Daun. Rara dan bunda cukup akrab dengan ciptaan Allah yang satu ini. Bukan karena kami ulat yang gemar nyemil  dedaunan lho, tapi karena disekitar rumah kami masih bernuansa ijo royo-royo (bisa dibaca: ndeso).

 














Saking banyaknya daun yang berinteraksi dengan kami, bunda jadi lupa mengajarkan Rara untuk menyayangi sang daun. Lebih tepatnya membedakan mana daun yang boleh dipetik dan mana yang tidak. Yang Rara lihat daun dipetik untuk makanan ternak, daun dipetik untuk dimasak, atau daun dipetik untuk bungkus-bungkus. Rara terlalu bebas memperlakukan mereka. Hobinya petik daun dan bunga rambat untuk hadiah Sofia (nama anak kambing dirumah).

Sampai suatu ketika Rara pergi bersama bunda ke rumah Kak Zahro (anak dari amah Miftah, teman bunda di Salimah). Disana kebanyakan tanaman tumbuh didalam pot, yang artinya tanaman tersebut bisa dikatakan tanaman hias. Rara dengan santainya memetik satu persatu daun yang tumbuh dengan subur dan penuh kasih sayang itu. Gimana enggak, daunnya kinclong-kinclong mungkin karena yang punya rajin ngelapin satu-satu setiap hari (who knows?) Dan tiba-tiba kak Zahro pun protes bertanya kesemua orang sambil membawa beberapa lembar daun kuping gajahnya, “siapa ini yang motesin daun-daunku?” (oh nooo....that’s my sweet heart do). Jadilah kami minta maaf dan dapat satu pelajaran menarik dihari itu.

Mari kita merenung sejenak.

Dari daun manusia bisa mendapat banyak hal. Daun begitu menginspirasi. There’s so much lesson to learn from the leaf.

Daun, saat ia masih berada diatas pohon menempel pada tangkainya, kerjanya adalah memberi. Diserapnya energi matahari untuk ia olah menjadi sumber tenaga dan ia alirkan keseluruh tubuh sang pohon.  Saat tiba waktunya ia terlepas dari tangkai, daun tak pernah protes terhadap Tuhan. Ia jalani setiap takdirnya dengan tetap tenang, ia berayun dibawa angin. Bertemu dengan daun lain, bertemu dengan rerumputan, dengan kupu-kupu, dengan ternak , begitu menikmatinya. Bahkan begitu menikmatinya sampai seakan ia telah diberitahu oleh Tuhan bahwa dalam kejatuhannya ia tetap dapat memberi. Benar saja. Ketika daun mencapai tanah, daun berubah menjadi humus. Sumber kehidupan baru. Daun tetap memberi. Tetap bermanfaat.




“… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)....” (al-An’aam: 59) 


HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh: Sapardi Djoko Damono
hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput 
nanti dulu, biarkan aku terbaring disini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi
sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi

 

Notes from Denas Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Templates Image by Tadpole's Notez